facebook twitter google
english indonesian

Kebetulan-kebetulan di Jakarta

Selatan Jakarta 2
Foto oleh Ridzki Noviansyah

Ridzki Noviansyah adalah praktisi fotografi serta editor dan penulis lepas. Memiliki kecintaan berlebih terhadap buku foto dan senang berdiskusi tentang berbagai macam topik.

Jalanan sebagai ruang publik yang senantiasa dipenuhi khalayak dan interaksi yang terjadi diantara mereka, menjadikan sebagai salah satu tempat melakukan praktik fotografi. Apalagi kalau ruang publik itu jalanan Jakarta dimana menurut seorang teman adalah tempat pengujian tingkat peradaban manusia. Sebagai fotografer saya terbiasa melihat hal-hal kecil. Hal-hal kecil yang memberi saya kebahagiaan-kebahagiaan kecil pula, Bahasa Inggris menyebutnya sebagai serendipity, kejutan yang menyenangkan atau kebetulan-kebetulan yang terlalu banyak. Saya bisa mengerti tentang keluhan sebagian besar orang tentang Jakarta, tetapi, saya merasa, terlepas dari kesulitan yang kita hadapi ada banyak momen serendipity di Jakarta yang dapat membuatmu bahagia. Langit biru yang muncul sesekali dan membuat hari begitu cerah, atau hujan yang memporak-porandakan berbagai rencana orang-orang misalnya. Saya orang yang menyukai momen-momen kecil serendipity itu dan saya menunggu, bukan mengejar, momen seperti itu. Efek yang ditimbulkan akan seperti keajaiban ketika kamu menunggunya, seakan-akan membuatmu tak percaya kamu sedang tinggal di Jakarta yang dipenuhi dengan berbagai permasalahan dari banjir, sosial dan kesenjangan kaya dan miskin.

Email a.ridzki@gmail.com dan follow instagramnya di @ridzki untuk melihat apa yang ditemui Ridzki di jalanan

Jakarta__June_2014. (3)


Aku Wangsit, aku anak utara.

ilustrasi_utarakan-JakartaWangsit Firmantika adalah seorang pengarah seni, kolektor mainan, penggila batik dan budaya pop Jepang. Tinggal di Sunter, Jakarta Utara.

“Aku Wangsit, aku anak utara. Ucap dan anggap tak akan menghalangi ku hidup dan bernafas. Mungkin air yang tinggi akan membuatku gelisah. Air – air itu datang tanpa undang. Seringnya memulai hari dengan ramahnya matahari, ku sambut malam dengan air semata kaki. Aku coba terlelap di bawah langit – langit ruang, terbangun di pagi, intip jendela, dan benar rupanya, sahabatku, air sudah menanti dengan tinggi. Aku adalah air, aku aman didalam air, air mengangkat beban tubuhku , dan air membersihkanku. Namun kali ini, air membuatku takut, air adalah pikulanku, dan air menghancurkan apa yang dilewatinya.

Aku Wangsit, aku anak utara. Aku berjalan lalui air keruh penuh partikel terapung yang begitu asing dan aku tak perlu tahu apakah itu. Aku berjalan menuju rumah, menyusuri air yang terpecah di dadaku. Ku angkat semua yang ku punya. Bertahan karena angan tertuju kepada alas tidur yang merindu.

Aku Wangsit, aku anak utara dan aku sudah utarakan Jakarta.”

Ilustrasi dan video oleh Wangsit Firmantika.
Follow akun instagramnya di @wangsitfirmantika.


Suatu hari di Gunung Sahari

20151111_102100Pak Basuki Rakhmat, adalah seorang pegawai negeri sipil di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta yang juga aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Sejak dulu Pak Basuki selalu tertarik untuk mengumpulkan data dan mendokumentasikan berbagai informasi tentang banjir di Jakarta.

“Saya terusik ketika melihat Jalan Gunung Sahari sering tergenang. Ternyata selain dari curah hujan, adanya luapan air dari sungai Ciliwung yang terhubung dengan laut menyebabkan apabila laut pasang, permukaan sungai Ciliwung juga ikut pasang.
Daerah sisi barat Ciliwung yang sebagian besar digunakan untuk pusat bisnis lebih bisa menyesuaikan dengan kondisi ini tetapi di sisi timur yang merupakan pemukiman padat sayangnya berada di area cekungan, sehingga rawan banjir.
Karenanya sekarang kita menyusuri Jalan Gunung Sahari, tampak dibangun tanggul setinggi 2 m di sepanjang kedua sisinya. Dari segi estetika memang tidak menarik, tetapi barangkali ini pilihan supaya area sekitar Gunung Sahari tidak tenggelam.”

Foto oleh Basuki Rakhmat.IMG-20151111-WA0013


Fatahillah, sebuah jantung kota

_20151029_163628Nugraha Pratama bertanya apakah dia bisa kembali lagi bercerita disini dan dengan sketsanya yang luar biasa tak mungkin kan kami menolaknya!

Hari ini Aga bercerita tentang bangunan-bangunan tua yang dilihatnya saat mencari obyek sketsa di Kota Tua termasuk cerita di balik gedung-gedung tersebut.

“Pernah nggak merhatiin setiap detil yang ada di kawasan Stadhuis Plein atau sekarang yang kita tahu namanya Taman Fatahillah? Dulu kawasan ini cukup untuk menampung semua warga Batavia dan digunakan pemerintah untuk memberi pengumuman kepada warga. Bayangkan deh berapa banyak jumlah penduduk Batavia dulu lalu bandingkan dengan jumlah penduduk Jakarta sekarang. Jauh banget bedanya!

Nah, sekarang perhatikan lagi gedung-gedung lainnya di daerah sini dan fungsinya di jaman itu. Museum Fatahilah jadi pusat pemerintahan Batavia, Museum Wayang dulunya gereja, Museum Bank Indonesia sekarang, dulunya De Javasche Bank, dan masih banyak lagi. Pokoknya dulu ini kawasan yang terkenal elit di mata dunia. Coba bandingin lagi sama sekarang. Untungnya sekarang kawasan Kota Tua mulai dikembalikan lagi jadi kawasan yang layak dengan banyaknya nilai sejarah yang ada di dalamnya.”stadhuisplein


Kurangi air, perbanyak tanaman

2015-09-10-13.48.20Ika Vantiani adalah seorang pekerja kreatif yang tinggal dalam sebuah ruang yang dinamakannya Halo Radio dimana dia berkarya, berbagi juga membuat taman kecil di bawah jendelanya.

“Walaupun sejak dulu saya suka tanaman, namun baru sejak pindah ke tempat tinggal kami yang sekarang saya lebih serius memelihara dan mengkoleksi beberapa sukulen, kaktus juga sirih gading. Karena konsumsi air untuk menyiram taman kecil ini juga bertambah besar setiap harinya, saya berusaha untuk mendaur ulang air yang kita pergunakan di dalam rumah untuk mencukupi kebutuhan ini. Dari air cucian piring, AC bocor sampai air yang terkumpul di dalam pot-pot tanaman itu sendiri. Pokoknya sekarang sebisa mungkin konsumsi air di pikirkan baik-baik.

Karena ternyata penyedotan air tanah untuk konsumsi air kita sehari-hari yang besar sekali, menjadi salah satu penyebab utama turunnya permukaan tanah di Jakarta yang bahkan sudah sampai 25 cm di Jakarta Utara. Memang saya tinggal di Jakarta Selatan, tapi kalau Jakarta tenggelam artinya kan kita semua terbenam. Seram!”

Foto oleh Rangga Kuzuma.


Sketsa baru tentang Jakarta lama

Dari Luar De Eerste (1)Nugraha Pratama adalah seorang ilustrator yang di akhir pekannya menjadi urban sketcher sebagai salah satu bentuk caranya membuat jurnal tentang kehidupannya sehari-hari. Dan ini adalah salah satu ceritanya saat berjalan-jalan di Kota Tua.

“Sketsa ini persis dikerjakan di tahun 2013 di atap gedung De Eerstee Steen Gelegd atau yang sekarang dikenal dengan nama gedung Cipta Niaga, terletak persia di sebrang Cafe Batavia.
Sebagai seorang urban sketcher, sketsa ini dibuat untuk keperluan saya pribadi belajar dengan menyalin tiap detil gedung ke kertas dan berinterpretasi untuk mengenal beberapa gedung bersejarah, salah satunya gedung ini. Melihat apa yang saya gambar disini seperti suasana reyot, berlumut, atap yang bolong, tentu saja sangat sulit untuk mengenal kembali fungsi lama dari gedung ini. Bersyukur banget batu peresmian masih bisa di temukan di pintu depan gedung Cipta Niaga.
Namun sekarang turut senang dengan ada nya program Jakarta Old Town Revitalization (JOTR). Berharap proyek JOTR bisa mengembalikan aura megah Batavia kembali di era Jakarta kini dan juga mempermudah akses orang orang yang ingin mempelajari dan mengenal wajah lama Jakarta.”you_friday


Tips optimis ala The Esjepe Inc

ESJEPEinc.-Utarakan-JKT-2-(bhs)Kali ini ada Indah Esjepe-Sudhowo dan Iwan Esjepe dari ESJEPE inc, pasangan suami istri kreatif yang aktif membuat berbagai kampanye untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik, kita ajak kolaborasi di Utarakan Jakarta.

Hei, jangan bersedih, walau Jakarta masih sering dilanda banjir di saat musim hujan, dan kesulitan air bersih di musim kemarau, tetaplah harus kita miliki rasa optimis untuk menghadapi problem atau masalah itu.

Pasti ada jalan. Berbagai upaya bisa kita lakukan, salah satu cara untuk membuat Jakarta lebih baik adalah dengan membuat lubang biopori. Biopori adalah lubang di tanah yang dibuat oleh begitu banyak kegiatan organisme di dalam, seperti cacing , materi tanaman , rayap dan fauna lain di tanah . Lubang-lubang yang terbentuk akan diisi dengan udara , dan akan menjadi tempat lewat air dalam tanah. Lubang-lubang biopori dapat menjadi solusi yang bermanfaat meresap air lebih banyak sehingga dapat mencegah banjir, penyuburkan tanah, dan bisa meningkatkan kualitas air tanah.

Pembuatan lubang biopori adalah sebuah langkah mudah dan murah yang bisa dilakukan oleh banyak warga di kota Jakarta. Ayo coba mulai buat lubang biopori di rumah!

#HeiJanganBersedih dan #PastiAdaJalan adalah kampanye #Optimistick oleh Indah Esjepe-Sudhowo dan Iwan Esjepe dari ESJEPE inc., kali ini berkolaborasi dengan seorang street fotografer: Christ Tuarissa, untuk Utarakan Jakarta.

Seorang anak dan gerobak air bersih, Sunda Kelapa, Jakarta
Foto : Chris Tuarissa

ESJEPEinc. Utarakan JKT 1


Ibuku VS Banjir

15-10-2015 you pic homepHalo, nama gue Tika, warga Jakarta. Sehari-hari, gue mengurus restoran gue, Kedai, di Kemang. Gue juga   menjalani beberapa project sosial di isu kekerasan terhadap perempuan, dan berkarya di musik bersama band gue Tika & The Dissidents.

Dan seperti warga Jakarta yg lain, gue pun terdampak oleh banjir setiap tahun. Rumah yang dihuni keluarga gue sejak 91, mulai langganan banjir sejak tahun 2007.

Setelah bertahun-tahun berperang dengan banjir setiap musim hujan, akhirnya nyokap berhasil merancang sistem pertahanan banjir yg mumpuni buat rumah kami di kemang. Tapi berapa lama bisa bertahan? kalau banjir semakin tinggi, pasti pertahanan mutakhir ini kalah juga. Kita memang ga bisa melawan banjir, tapi bisa mencegahnya sama-sama.IMG_3184


Siapa yang mau jadi terkenal?

Ya, musim hujan akan segera datang.
Sebagian orang membencinya, yang lainnya tidak peduli dan ada beberapa orang yang menerima kehadirannya dan bersenang-senang.

Yuk kita lihat Muara Baru, wilayah yang terkenal akan banjirnya, para warganya yang terbiasa kakinya kena basah.
Namun, biar bagaimana pun mereka bersenang-senang dan menjadikannya saat terbaik.

Lihatlah pria dengan jas hujan merah muda ini.
Apakah KAMU mau membantu kami, membuatnya menjadi bintang film dan membagikan video ini ke temanmu?