facebook twitter google
english indonesian

200 kilo air

uj1Nama saya Agatha Astari, seorang ilustrator dan mahasiswa DKV semester empat di suatu universitas swasta. Kampus saya berada di daerah Jakarta Utara, dan setiap pagi dari lantai tujuh saya disuguhkan pemandangan pelabuhan dari jendela kampus.

Sebagai orang yang sudah menghabiskan 15 tahun hidup di Jakarta, keberadaan penjual air bersih keliling bukanlah hal yang asing lagi bagi saya. Walau saya tidak pernah menjadi pembelinya, saya tetap merasa bahwa mereka adalah pahlawan bagi banyak orang di kota ini. Setiap harinya mereka memikul gerobak berat penuh jerigen air yang dibutuhkan oleh para warga yang tempat tinggalnya belum dilengkapi dengan air bersih, atau kekurangan air karena datangnya musim kemarau.

Satu jerigen air dengan kapasitas 20 liter umumnya dijual seharga Rp 2.500, dan satu gerobak biasanya dapat memuat 10-12 jerigen. Apabila satuan liter disetarakan dengan satuan kilogram, maka kita dapat menyimpulkan bahwa berat gerobak yang harus didorong oleh penjual air untuk satu kali angkut adalah minimal 200 kilogram.

Beban minimal 200 kilogram yang diemban oleh pedagang air keliling setiap harinya mungkin tidak dirasakan oleh saya dan teman-teman lainnya yang dengan mudah telah memiliki akses air bersih tanpa batas. Dan sayangnya, hal tersebut malah terkadang membuat kita menyia-nyiakan air bersih yang ada.

uj2Mungkin setelah kita sama-sama mengetahui betapa susahnya air bersih didistribusikan dan didapat, kita jadi lebih bisa menghargai keberadaan air bersih. Banyak cara yang dapat kita lakukan. Salah satu yang sering saya terapkan adalah dengan menggunakan air seefektif mungkin saat mencuci tangan. Matikan air saat masih menggosok tangan dengan sabun. Setelah selesai menggosok dengan sabun dan hendak membilas, baru nyalakan lagi airnya. Bagaimana dengan teman-teman lainnya?