facebook twitter google
english indonesian

Hujan itu mahal

adina 02IMG_0356_1Foto oleh Indira Kifani

Hari ini Andina Septia, seorang ibu pekerja yang ingin berbagi cerita tentang lalu lintas Jakarta.
Halo, namaku Dina. Aku seorang pekerja kantoran yang setiap hari menggunakan moda transportasi Commuter Line dan Angkutan Kota serta kendaraan pribadi yang diparkir di Stasiun Kereta. Perjalanan dari rumah ke kantor rata-rata memakan waktu hingga 1,5 jam. Namun begitu pulang perjalanannya bisa mencapai 2,5 jam! Seakan-akan jumlah kendaraan dan manusia berlipat ganda di sore hari. Kemacetan Jakarta sudah menjadi hal yang biasa buatku. Namun, banyak kesedihan yang kadang terlihat selama perjalanan. Aku menyaksikan 2 orang bermotor besar merampas handphone seorang wanita yang duduk dekat jendela di dalam angkot. Aku tak bisa melakukan apapun, karena kejadiannya begitu cepat.
Saat musim hujan, segalanya jadi makin sulit. Mesti siap-siap banjir, artinya waktu sampai di rumah akan lebih lama lagi. Seringkali terjadi gangguan sinyal kereta jadi perjalanan dengan Commuter Line bisa terhenti begitu saja. Kalau sudah begitu, aku harus cerdik agar bisa pulang. Untung saja sekarang banyak jasa pesanan ojek berbasis aplikasi. Sebuah komunitas urban di media sosial juga membantu mencarikan tumpangan kendaraan yang searah dengan rumah kita. Tapi artinya, aku harus menyiapkan dana yang tidak sedikit jika ingin menggunakan moda alternatif tersebut. Rasanya, hujan menjadi sesuatu yang mahal harganya.


Nyanyikan saja!


Ariyanti Tjiang, besar dan tinggal di Jakarta. Tepatnya di utara Jakarta yang di setiap akhir tahun merasakan keresahan yang sama akibat datangnya musim hujan.Walaupun sebagai warga Jakarta Utara Ari sudah terlatih untuk siap dan juga sigap dalam menghadapi bahaya banjir, dari mulai mengkonsumsi bahan makanan yang tepat sampai meninggikan jalan-jalan di depan rumah. Artinya juga buat yang rumahnya tidak cukup tinggi atau punya loteng, mesti siap-siap mengungsi.
Tapi daripada saya mengeluh terus-menerus, saya coba menuangkan keresahan saya ini dalam sebuah lagu. Edisi curhat sama Tuhan, yang empunya semesta dan segala isinya.

“Nyanyian Kepada Yang Empunya”
Empunya langit dan udara
Berikan hujan secukupnya
Jangan marah, jangan turunkan murka
Di bumi seperti di surga.
Selamatkanlah..
Bertahanlah…
Di bumi seperti di surga…AriTjiang#2 AriTjiang#1
Lagu dan dokumentasi pribadi Ariyanti Tjiang


Kebetulan-kebetulan di Jakarta

Selatan Jakarta 2
Foto oleh Ridzki Noviansyah

Ridzki Noviansyah adalah praktisi fotografi serta editor dan penulis lepas. Memiliki kecintaan berlebih terhadap buku foto dan senang berdiskusi tentang berbagai macam topik.

Jalanan sebagai ruang publik yang senantiasa dipenuhi khalayak dan interaksi yang terjadi diantara mereka, menjadikan sebagai salah satu tempat melakukan praktik fotografi. Apalagi kalau ruang publik itu jalanan Jakarta dimana menurut seorang teman adalah tempat pengujian tingkat peradaban manusia. Sebagai fotografer saya terbiasa melihat hal-hal kecil. Hal-hal kecil yang memberi saya kebahagiaan-kebahagiaan kecil pula, Bahasa Inggris menyebutnya sebagai serendipity, kejutan yang menyenangkan atau kebetulan-kebetulan yang terlalu banyak. Saya bisa mengerti tentang keluhan sebagian besar orang tentang Jakarta, tetapi, saya merasa, terlepas dari kesulitan yang kita hadapi ada banyak momen serendipity di Jakarta yang dapat membuatmu bahagia. Langit biru yang muncul sesekali dan membuat hari begitu cerah, atau hujan yang memporak-porandakan berbagai rencana orang-orang misalnya. Saya orang yang menyukai momen-momen kecil serendipity itu dan saya menunggu, bukan mengejar, momen seperti itu. Efek yang ditimbulkan akan seperti keajaiban ketika kamu menunggunya, seakan-akan membuatmu tak percaya kamu sedang tinggal di Jakarta yang dipenuhi dengan berbagai permasalahan dari banjir, sosial dan kesenjangan kaya dan miskin.

Email a.ridzki@gmail.com dan follow instagramnya di @ridzki untuk melihat apa yang ditemui Ridzki di jalanan

Jakarta__June_2014. (3)