facebook twitter google
english indonesian

Aku Wangsit, aku anak utara.

ilustrasi_utarakan-JakartaWangsit Firmantika adalah seorang pengarah seni, kolektor mainan, penggila batik dan budaya pop Jepang. Tinggal di Sunter, Jakarta Utara.

“Aku Wangsit, aku anak utara. Ucap dan anggap tak akan menghalangi ku hidup dan bernafas. Mungkin air yang tinggi akan membuatku gelisah. Air – air itu datang tanpa undang. Seringnya memulai hari dengan ramahnya matahari, ku sambut malam dengan air semata kaki. Aku coba terlelap di bawah langit – langit ruang, terbangun di pagi, intip jendela, dan benar rupanya, sahabatku, air sudah menanti dengan tinggi. Aku adalah air, aku aman didalam air, air mengangkat beban tubuhku , dan air membersihkanku. Namun kali ini, air membuatku takut, air adalah pikulanku, dan air menghancurkan apa yang dilewatinya.

Aku Wangsit, aku anak utara. Aku berjalan lalui air keruh penuh partikel terapung yang begitu asing dan aku tak perlu tahu apakah itu. Aku berjalan menuju rumah, menyusuri air yang terpecah di dadaku. Ku angkat semua yang ku punya. Bertahan karena angan tertuju kepada alas tidur yang merindu.

Aku Wangsit, aku anak utara dan aku sudah utarakan Jakarta.”

Ilustrasi dan video oleh Wangsit Firmantika.
Follow akun instagramnya di @wangsitfirmantika.


Suatu hari di Gunung Sahari

20151111_102100Pak Basuki Rakhmat, adalah seorang pegawai negeri sipil di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta yang juga aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Sejak dulu Pak Basuki selalu tertarik untuk mengumpulkan data dan mendokumentasikan berbagai informasi tentang banjir di Jakarta.

“Saya terusik ketika melihat Jalan Gunung Sahari sering tergenang. Ternyata selain dari curah hujan, adanya luapan air dari sungai Ciliwung yang terhubung dengan laut menyebabkan apabila laut pasang, permukaan sungai Ciliwung juga ikut pasang.
Daerah sisi barat Ciliwung yang sebagian besar digunakan untuk pusat bisnis lebih bisa menyesuaikan dengan kondisi ini tetapi di sisi timur yang merupakan pemukiman padat sayangnya berada di area cekungan, sehingga rawan banjir.
Karenanya sekarang kita menyusuri Jalan Gunung Sahari, tampak dibangun tanggul setinggi 2 m di sepanjang kedua sisinya. Dari segi estetika memang tidak menarik, tetapi barangkali ini pilihan supaya area sekitar Gunung Sahari tidak tenggelam.”

Foto oleh Basuki Rakhmat.IMG-20151111-WA0013


Fatahillah, sebuah jantung kota

_20151029_163628Nugraha Pratama bertanya apakah dia bisa kembali lagi bercerita disini dan dengan sketsanya yang luar biasa tak mungkin kan kami menolaknya!

Hari ini Aga bercerita tentang bangunan-bangunan tua yang dilihatnya saat mencari obyek sketsa di Kota Tua termasuk cerita di balik gedung-gedung tersebut.

“Pernah nggak merhatiin setiap detil yang ada di kawasan Stadhuis Plein atau sekarang yang kita tahu namanya Taman Fatahillah? Dulu kawasan ini cukup untuk menampung semua warga Batavia dan digunakan pemerintah untuk memberi pengumuman kepada warga. Bayangkan deh berapa banyak jumlah penduduk Batavia dulu lalu bandingkan dengan jumlah penduduk Jakarta sekarang. Jauh banget bedanya!

Nah, sekarang perhatikan lagi gedung-gedung lainnya di daerah sini dan fungsinya di jaman itu. Museum Fatahilah jadi pusat pemerintahan Batavia, Museum Wayang dulunya gereja, Museum Bank Indonesia sekarang, dulunya De Javasche Bank, dan masih banyak lagi. Pokoknya dulu ini kawasan yang terkenal elit di mata dunia. Coba bandingin lagi sama sekarang. Untungnya sekarang kawasan Kota Tua mulai dikembalikan lagi jadi kawasan yang layak dengan banyaknya nilai sejarah yang ada di dalamnya.”stadhuisplein


Kurangi air, perbanyak tanaman

2015-09-10-13.48.20Ika Vantiani adalah seorang pekerja kreatif yang tinggal dalam sebuah ruang yang dinamakannya Halo Radio dimana dia berkarya, berbagi juga membuat taman kecil di bawah jendelanya.

“Walaupun sejak dulu saya suka tanaman, namun baru sejak pindah ke tempat tinggal kami yang sekarang saya lebih serius memelihara dan mengkoleksi beberapa sukulen, kaktus juga sirih gading. Karena konsumsi air untuk menyiram taman kecil ini juga bertambah besar setiap harinya, saya berusaha untuk mendaur ulang air yang kita pergunakan di dalam rumah untuk mencukupi kebutuhan ini. Dari air cucian piring, AC bocor sampai air yang terkumpul di dalam pot-pot tanaman itu sendiri. Pokoknya sekarang sebisa mungkin konsumsi air di pikirkan baik-baik.

Karena ternyata penyedotan air tanah untuk konsumsi air kita sehari-hari yang besar sekali, menjadi salah satu penyebab utama turunnya permukaan tanah di Jakarta yang bahkan sudah sampai 25 cm di Jakarta Utara. Memang saya tinggal di Jakarta Selatan, tapi kalau Jakarta tenggelam artinya kan kita semua terbenam. Seram!”

Foto oleh Rangga Kuzuma.