facebook twitter google
english indonesian

Oh Jakarta

CHRIS EVANBulan ini, Charlie Chris Evan, seorang pengacara yang sekarang menjadi seniman tato dan aktifis kembali mengirimkan foto dan puisinya untuk Utarakan Jakarta.

Tersengal hela nafasku
Seraya tertatih dalam putaran waktu
Enggan berhenti
Meski hati terasa sendu

Butir debu tak kasat mata
Terlihat jelas pada proyeksi
Menghadirkan pola acak kisah kisah
Yang telah berlalu di belakang waktu

Oh Jakarta..
Terasa asing sekelilingku
Oh Jakarta..
Jejakkan rasa yang tidak terdefinisikan

Kenangan..
Tenggelam..

Foto oleh Charlie Chris Evan.


Soneta Untuk Jakarta

Freyke KosakoyFreyke Kosakoy adalah seorang fotografer komersil, yang rajin jogging, memasak dan makan enak di waktu senggangnya. Freyke berasal dari Balikpapan, dan hari ini ia ingin bercerita tentang perasaannya menjadi orang Jakarta dalam sebuah soneta yang dibuatnya untuk Utarakan Jakarta.

Soneta untuk Jakarta
Rentetan deru klakson dan riuh mesin-mesin bertalu,
Bercampur ambisi dan harapan tindih menindih letih,
Surya yang congkak, mencubit dari balik tirai abu-abu,
Meniup panas disela-sela tarikan nafas yang makin perih.

Oh, Tersadar bahwa ini adalah panggung besar,
Dengan setiap lakonnya ingin menjadi pemeran utama,
Halalkan semua cara, tanpa sudi dipanggil barbar,
Tak terlihat dikaca mereka, ternyata badut semata.

Tetapi dia masih bertahan, tidak mau terkikis habis,
Dia pun masih menaruh harap, tidak ingin tinggal diam dalam buram,
Dia telah menambat hatinya, sedikit demi sedikit, lapis demi lapis,
Berjanji kelak langitnya akan lebih biru, tak lagi suram, apalagi seram,

Jakarta, aku pun masih punya harap, sedikit namun tetap,
Hari itu kau dan aku akan bisa berbagi cerita disela tarikan nafas yang lega.
Freyke Kosakoy
Foto oleh Freyke Kosakoy.


Kiriman

Kiriman Charlie Chris Evan adalah pengacara yang sekarang menjadi seniman tato dan musisi juga aktifis kesetaraan gender. Untuk Utarakan Jakarta, Charlie membuat sebuah puisi yang menceritakan tentang perasaan anak-anak terhadap banjir kiriman yang semakin sering datang menyerang Jakarta akhir-akhir ini.

– Kiriman –

Aku tahu
Aku tak begitu mengenalmu
Orang bilang
Kamu kejam, angkuh

Aku tahu itu
Saat hujan tak sentuh kepalaku
Tapi hanya sentuh kakiku
Hujan dari tetangga kata ibu

Aku tanya pada ibu
Bolehkah aku bergembira, ibu?
Sebab diluar sana teman temanku sudah memanggil
Timbul tenggelam, tertawa seraya tersedak air banjir

Aku tahu
Bahwa ini bukanlah sukacita sebenarnya
Sebab kurasa
Aku perlu terlihat senang oleh ibu agar ia tak lagi murung

Murung
Sebab foto ayah yang dibingkai kayu hitam, hanyut
Terendam
Bersama Jakarta yang tenggelam

Foto oleh Charlie Chris Evan.


Dari Graanpakhuis menuju pool truk

Graanpakhuizen - REMIKON(1)Nugraha Pratama adalah seorang urban sketcher yang suka sekali menggambar di area sekitar Kota Tua.

Terletak di jalan Tongkol, Kota Tua, sebuah peninggalan pemerintahan kolonial Belanda yang tidak tersorot publik.

Dirancang oleh arsitek Jacques de Bollan pada abad ke 17. Menurut epitaph (batu tulis nisan) yang terdapat di Taman Prasasti gudang ini terdiri dari 4 gudang besar. Dulunya gudang timur ini disebut juga Graanpakhuizen berperan sebagai tempat untuk menyimpan bahan pangan seperti beras, kacang-kacangan, dan biskuit. Gudang sisi timur VOC ini juga di kelilingi tembok benteng antara Bastion Amsterdam dan Bastion Robijn yang sekarang merupakan reruntuhan terakhir dari benteng Batavia peninggalan Belanda.

Gudang tertua yang saya buat sketsanya disini dibangun pertengahan abad ke-17. Tiga lainnya dibangun antara 1748 dan 1759. Ini saya baca di ‘ Sejarah Tempat Jakarta ‘ oleh Adolf Heuken dari salah yang satu pintu dengan prasasti dengan tahun tertulis 1752 di atasnya.

Kini kawasan ini adalah milik militer, terletak di bawah jalan layang tol lingkar luar Jakarta. Sekarang tempat ini dijadikan pool truk besar dan pabrik semen. Hanya tinggal tersisa 1 dari 4 Gudang, dimana yang lainnya telah diratakan. Jadi memang cukup sulit juga menggambar arsitektur di daerah ini.Graanpakhuizen Gudang Timur(1)


Harmony oleh Yogi

utarakan-jakarta-Harmony-01(1)Yogi Kusuma adalah seorang fotografer, Digital Imaging Artist dan guru. Untuk Utarakan Jakarta, Yogi ingin bercerita tentang observasinya tentang sampah dan tanah di musim hujan.

“Proses melihat objek keseharian yang berwarna-warni dan berbau menyengat yang tak jarang di jumpai di tiap sudut sisa. Melihat lebih dekat untuk kemudian menandai mana yang dimusuhi oleh tempat kaki saya berpijak. Meluangkan waktu untuk memilah berdasarkan sifat dan kategori dari objek yang tak mau berdamai dengan proses yang alamiah.

Bukan pengetahuan baru jika kita mau meluangkan sedikit waktu dan memberi energi positif dalam rangka merawat tanah tempat kita hidup ini, bahwa kemudian kita akan mendapatkan harmoni yang buat kita pada akhirnya mensyukuri musim penghujan.”
utarakan-jakarta-Harmony-03
Foto oleh Yogi Kusuma.


Bahayanya naik motor di Jakarta

YOU - FitriSaya Fitri seorang admin media sosial dan juga fotografer.

Saya mengendarai motor sejak 4 tahun yang lalu. Saya ingin mewakili membagi cerita ratusan pengendara motor lainnya yang setiap hari berkendara di atas jalan raya Ibu Kota yang banyak berlubang akibat dari program pembangunan besar-besaran atas nama Transportasi masa depan bebas dari jalanan padat, alias macet. Saya ingin menceritakan bagaimana kami para pengendara motor sering kali bertemu dan bersapa dengan celaka setiap kali putaran roda motor kami melewati jalan-jalan raya yang berlubang tersebut. Bagaimana kami harus selalu jeli melihat keadaan jalanan baik pada saat terik maupun hujan, karena jika tidak berhati-hati, apalagi pada saat hujan membanjiri Jakarta, jalan-jalan yang berlubang tersebut sudah pasti tidak akan terlihat karena tertutup oleh genangan air hujan.

Saya sempat merasakan bagaimana rasanya hentakan motor yang begitu keras, ketika roda motor yang saya kendarai masuk kedalam lubang jalan raya yang tertutup oleh genangan air hujan. Kalau saja pada saat itu saya tidak bisa kontrol rem, mungkin saat itu saya akan terjatuh. Kisah lainnya dari pengendara motor perkara lubang jalan raya adalah ketika pada saat 2 teman saya terjatuh di daerah senayan menuju hanglekir, akibat adanya lubang jalan yang terurtup oleh genangan air hujan namun tak terlihat jelas olehnya.
YOU - Fitri


Kamu Tidak Tahu Apa yang Telah Kamu Perbuat

1_copySalima Hakim menjajaki kancah seni visual kontemporer: berpartisipasi dalam berbagai pameran, mengajar. Dan menyayangi binatang.
Lahir di Selatan Jakarta, pengalaman banjir yang dialaminya berbeda dengan warga Jakarta lain. Hingga saat ini, Salima tidak merasa kalau ia adalah bagian dari penyebab banjir itu sendiri.

Ia sadar bahwa kebiasaan makan snack-nya berkontribusi pada penumpukan sampah yang menggunung. Menyumbat sungai-sungai: banjir. Eksperimennya: mendokumentasikan jumlah dari sampah non-organik yang ia (dan suaminya) hasilkan dalam 5 hari. Ia kemudian kaget dengan perolehan hasilnya. Ternyata pembungkus makanan mereka itu juga sebuah masalah. Hal itu membuat mereka berpikir kembali tentang kebiasaan makan dan menikmati snack. Terlihat familiar?3_copy


Luar Ruang Sama Serunya dengan Dalam Ruang

gbr1Sophia Rengganis adalah seorang konsultan pajak yang juga menyukai seni dan fotografi.

Saya suka pergi ke mall, sama seperti banyak orang Jakarta lainnya. Tapi saya juga suka berada di ruang terbuka apalagi di akhir pekan untuk olahraga atau piknik bersama teman-teman.

Makanya saya pengennya mall dan ruang terbuka di Jakarta nggak cuma bisa sama ramainya, juga sama banyak jumlahnya. Dan semakin banyak ruang terbuka hijau artinya akan lebih banyak juga ruang penyerapan air yang sekarang semakin sedikit di Jakarta. Itulah sebabnya Jakarta jadi rentan banjir.

Jadi, akhir pekan nanti coba deh jalan-jalan juga ke taman atau ruang publik lainnya. Bisa seru juga lho!gbr2


200 kilo air

uj1Nama saya Agatha Astari, seorang ilustrator dan mahasiswa DKV semester empat di suatu universitas swasta. Kampus saya berada di daerah Jakarta Utara, dan setiap pagi dari lantai tujuh saya disuguhkan pemandangan pelabuhan dari jendela kampus.

Sebagai orang yang sudah menghabiskan 15 tahun hidup di Jakarta, keberadaan penjual air bersih keliling bukanlah hal yang asing lagi bagi saya. Walau saya tidak pernah menjadi pembelinya, saya tetap merasa bahwa mereka adalah pahlawan bagi banyak orang di kota ini. Setiap harinya mereka memikul gerobak berat penuh jerigen air yang dibutuhkan oleh para warga yang tempat tinggalnya belum dilengkapi dengan air bersih, atau kekurangan air karena datangnya musim kemarau.

Satu jerigen air dengan kapasitas 20 liter umumnya dijual seharga Rp 2.500, dan satu gerobak biasanya dapat memuat 10-12 jerigen. Apabila satuan liter disetarakan dengan satuan kilogram, maka kita dapat menyimpulkan bahwa berat gerobak yang harus didorong oleh penjual air untuk satu kali angkut adalah minimal 200 kilogram.

Beban minimal 200 kilogram yang diemban oleh pedagang air keliling setiap harinya mungkin tidak dirasakan oleh saya dan teman-teman lainnya yang dengan mudah telah memiliki akses air bersih tanpa batas. Dan sayangnya, hal tersebut malah terkadang membuat kita menyia-nyiakan air bersih yang ada.

uj2Mungkin setelah kita sama-sama mengetahui betapa susahnya air bersih didistribusikan dan didapat, kita jadi lebih bisa menghargai keberadaan air bersih. Banyak cara yang dapat kita lakukan. Salah satu yang sering saya terapkan adalah dengan menggunakan air seefektif mungkin saat mencuci tangan. Matikan air saat masih menggosok tangan dengan sabun. Setelah selesai menggosok dengan sabun dan hendak membilas, baru nyalakan lagi airnya. Bagaimana dengan teman-teman lainnya?


Akhir pekan di Banjir Kanal Timur

Main visual web-1st post FBSaya Dwie Judha Satria, tapi biasa dipanggil Buyung. Saya seorang illustrator dan juga aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Pernah dengar tentang Banjir Kanal Timur? Daerah penampungan dan serapan air yang sengaja dibangun oleh pemerintah DKI Jakarta untuk menanggulangi banjir yang terjadi di Jakarta. Kanal buatan seluas 207 kilometer persegi ini, difungsikan guna menampung air dari Kali Ciliwung, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung.

Saya merasa walaupun di hari kerja daerah ini macetnya menyebalkan, namun di akhir pekan ternyata bisa menjadi sangat menyenangkan. Saya melihat banyak orang yang berolahraga, main layangan atau sekedar duduk-duduk menunggu matahari tenggelam. Seru sekali!

Selain itu saya juga menyadari fakta menarik lainnya dimana daerah sungai atau kanal yang selama ini lebih dikenal sebagai daerah ‘belakang’ oleh banyak orang sehingga seringkali juga digunakan sebagai tempat pembuangan sampah dan lain sebagainya, di daerah Banjir Kanal Timur ini menjadi daerah yang berada di ‘depan’ karena bersih dan pemandangannya juga cantik. Menarik kan?

Nah, karena daerah Banjir Kanal Timur ini sudah bersih tampaknya orang juga jadi enggan buang sampah sembarangan disana, jadinya sekarang semoga semakin banyak orang Jakarta yang sadar betapa nyaman dan enaknya untuk berada di daerah yang bersih dari sampah.

Extra visual web-2nd post FB

Ilustrasi oleh Dwie Judha Satria.


Di Tepian Jakarta

Foto for YOU - Andi GunawanAndi Gunawan adalah seorang penulis dan manajer. Hari ini ia ingin bercerita dengan membuat sebuah puisi untuk Anda.

Di Tepian Jakarta

selain sampah dan kesombongan
yang tak berkurang sedikit pun setiap akhir pekan
adakah cinta di tepian Jakarta?

selain taman bermain dan keceriaan
yang kerap direnggut paksa oleh ketidakpedulian
adakah cinta di tepian Jakarta?

selain televisi dan penjual impian
yang menghidangkan piring kosong di meja makan
adakah cinta di tepian Jakarta?

selain janji manis dan deras hujan
yang tak pernah berhenti mengalirkan kecemasan
adakah cinta di tepian Jakarta?

Jakarta, Desember 2015


Hujan itu mahal

adina 02IMG_0356_1Foto oleh Indira Kifani

Hari ini Andina Septia, seorang ibu pekerja yang ingin berbagi cerita tentang lalu lintas Jakarta.
Halo, namaku Dina. Aku seorang pekerja kantoran yang setiap hari menggunakan moda transportasi Commuter Line dan Angkutan Kota serta kendaraan pribadi yang diparkir di Stasiun Kereta. Perjalanan dari rumah ke kantor rata-rata memakan waktu hingga 1,5 jam. Namun begitu pulang perjalanannya bisa mencapai 2,5 jam! Seakan-akan jumlah kendaraan dan manusia berlipat ganda di sore hari. Kemacetan Jakarta sudah menjadi hal yang biasa buatku. Namun, banyak kesedihan yang kadang terlihat selama perjalanan. Aku menyaksikan 2 orang bermotor besar merampas handphone seorang wanita yang duduk dekat jendela di dalam angkot. Aku tak bisa melakukan apapun, karena kejadiannya begitu cepat.
Saat musim hujan, segalanya jadi makin sulit. Mesti siap-siap banjir, artinya waktu sampai di rumah akan lebih lama lagi. Seringkali terjadi gangguan sinyal kereta jadi perjalanan dengan Commuter Line bisa terhenti begitu saja. Kalau sudah begitu, aku harus cerdik agar bisa pulang. Untung saja sekarang banyak jasa pesanan ojek berbasis aplikasi. Sebuah komunitas urban di media sosial juga membantu mencarikan tumpangan kendaraan yang searah dengan rumah kita. Tapi artinya, aku harus menyiapkan dana yang tidak sedikit jika ingin menggunakan moda alternatif tersebut. Rasanya, hujan menjadi sesuatu yang mahal harganya.


Nyanyikan saja!


Ariyanti Tjiang, besar dan tinggal di Jakarta. Tepatnya di utara Jakarta yang di setiap akhir tahun merasakan keresahan yang sama akibat datangnya musim hujan.Walaupun sebagai warga Jakarta Utara Ari sudah terlatih untuk siap dan juga sigap dalam menghadapi bahaya banjir, dari mulai mengkonsumsi bahan makanan yang tepat sampai meninggikan jalan-jalan di depan rumah. Artinya juga buat yang rumahnya tidak cukup tinggi atau punya loteng, mesti siap-siap mengungsi.
Tapi daripada saya mengeluh terus-menerus, saya coba menuangkan keresahan saya ini dalam sebuah lagu. Edisi curhat sama Tuhan, yang empunya semesta dan segala isinya.

“Nyanyian Kepada Yang Empunya”
Empunya langit dan udara
Berikan hujan secukupnya
Jangan marah, jangan turunkan murka
Di bumi seperti di surga.
Selamatkanlah..
Bertahanlah…
Di bumi seperti di surga…AriTjiang#2 AriTjiang#1
Lagu dan dokumentasi pribadi Ariyanti Tjiang