facebook twitter google
english indonesian

Warga Jakarta

Pak Lukman, Nelayan

Pak Lukman adalah seorang nelayan yang tinggal bersama keluarganya dalam sebuah rumah bertingkat di area sekitar tanggul laut di Kampung Pojok atau Ujung di Jakarta Utara. Lahir di daerah sekitar mercusuar yang sampai saat ini masih tegak berdiri disana, setiap hari Pak Lukman dengan tekun dan sabar mengamati angin laut dan riak ombak karena kehidupannya termasuk keluarganya bergantung sepenuhnya di laut. Rumah pak Lukman sendiri dibangun diatas permukaan air yang membuatnya mesti meninggikannya berulang kali akibat naiknya permukaan air laut yang terus menerus karena Jakarta tenggelam.

Laut membuat Pak Lukman juga tidak terlalu khawatir dengan resiko penggusuran di daerah tempat tinggalnya sekarang karena sudah pasti dia akan memilih tinggal diatas kapalnya di laut, sementara keluarganya akan tinggal di rumah susun. Pak Lukman juga sangat menikmati pilihannya menjadi nelayan tradisional seperti hari ini. Ia tidak pernah tertarik untuk mengikuti jejak kebanyakan nelayan lainnya yang pendapatannya sebagian besar berasal dari menjadi ojek kapal untuk mengantar para pemancing melaut karena menurutnya itu akan mengurangi kebebasannya.

Dengan kecintaannya pada laut yang begitu rupa, Pak Lukman khawatir sekali melihat semakin banyaknya limbah yang dibuang ke laut saat ini. Tidak hanya membuat laut menjadi kotor sekali, tapi juga berdampak pada hasil tangkapannya yang turun terus sekarang. Seringkali ia mesti berlayar bermil-mil jauhnya hanya untuk bisa menemukan air laut yang bebas limbah. Tentu saja, Pak Lukman juga menjadi salah satu anggota perkumpulan nelayan yang memprotes pembuangan limbah ke pantai ini.

Pembawaan Pak Lukman yang tenang dan ringan dalam memandang hidup ini tampaknya juga dimiliki oleh istrinya Rifka serta anak perempuan mereka, Lilis. Mereka kerap bercanda sambil membicarakan tentang rumah mereka yang bisa kena gusur kapan saja, juga banyaknya sampah yang ada di bawah bangunan rumah mereka dan menyebutnya sebagai “Rejeki ngambang dimana-mana.”

 

Bu Sarmini, Penjual Jamu

Bu Sarmini adalah wanita yang sangat aktif dan senang sekali mengobrol. Dengan motornya, setiap hari Bu Sarmini berkeliling berjualan jamu di daerah Jalan Tongkol dan Kalimati, di pagi dan malam hari. Pelanggannya sebagian besar adalah supir truk yang sedang transit. Saat ini Bu Sarmini sedang mengandung anaknya yang keempat. Dan karena tiga orang anaknya yang lain lelaki, ia sangat berharap agar kali ini anaknya perempuan.

Selain berjualan jamu, Bu Sarmini juga ikut dalam berbagai kegiatan di sekitar lingkungan rumahnya. Dari mulai ikut pengajian, jadi relawan di Posyandu hingga pertemuan untuk membahas keadaan lingkungan setempat bahkan demo di malam hari.

Untuk menambah penghasilan keluarganya, Bu Sarmini jeli dalam melihat peluang usaha. Rumahnya berada di ujung Waduk Pluit, sehingga dibuatlah WC umum untuk tetangga sekitarnya. Tak hanya itu, Bu Sarmini juga membuat menyewakan kamar kos dan mengumpulkan botol plastik bekas diluar kredit baju yang sudah dijalankannya selama bertahun-tahun.

Walaupun rumahnya bisa jadi rawan kena gusur, namun Bu Sarmini merasa lokasi rumahnya tersebut aman karena tidak mengganggu aktifitas waduk. Menurutnya, daripada pemerintah menggusur orang-orang dari lokasi tersebut lebih baik pemerintah memperbaiki kondisi di sana agar menjadi layak tinggal dengan fasilitas air bersih dan manajemen sampah yang baik. Itu adalah salah satu keinginannya saat ini.

 

Alda, Siswi Sekolah

Alda, 12 tahun, tinggal dalam salah satu kamar petak di daerah Pasar Ikan bersama ibu dan ayah tirinya. Dulu daerah ini terkenal sebagai sebuah pasar ikan yang besar dan ramai, tapi sekarang hanya tinggal beberapa saja yang masih berjualan disana. Pasar Ikan itu sendiri dibangun lebih dari 300 tahun lalu dan sekarang sudah diambang runtuh. Itu artinya, tempat tinggal Alda dan orang tuanya bisa kena gusur kapan saja.

Sesekali Alda suka pergi ke daerah Gang Sampahan, Kebon Tebu, Muara Baru, dimana nenek dari pihak ibunya, ibu neneknya juga seorang kakak lelakinya tinggal dalam sebuah rumah yang sederhana. Keluarga Alda dari pihak ibunya adalah orang-orang Betawi yang merupakan penduduk asli Jakarta.

Alda adalah seorang anak perempuan yang manis dan pendiam, dan menurut istilah neneknya, ‘nggak macem-macem’. Sejak ibunya menikah dengan ayah tirinya Alda mesti pindah tinggal di Pasar Ikan, walau ia hampir tidak punya teman disana karena sebagian besar temannya tinggal di Muara Baru atau teman-teman di sekolahnya.

Alda juga pintar memegang uang, karena daripada dihabiskannya untuk jajan, dia rajin menabung untuk membeli buku pelajaran atau pakaian untuk neneknya. Saat dewasa nanti, Alda ingin menjadi seorang Polwan. Karena menurutnya dengan menjadi Polwan dia bisa mengatur lalu lintas dan membantu banyak orang agar berhati-hati di jalan dan selamat sampai di rumah.

 

Pak Sumari, Pemandu Wisata

Pak Sumari bekerja sebagai pemandu wisata sepeda onthel di Kota Tua. Kemana-mana Pak Sumari akan membawa kartu nama dan tidak segan-segan memberikan kepada orang yang sudah ditemaninya berjalan-jalan. Ia bangga sekali menjadi pemandu wisata disana. Banyak sekali orang yang menyukai mendengar cerita Pak Sumari tentang Kota Tua jaman dahulu. Keadaan Kota Tua yang sekarang tentu saja membuatnya sedih karena banyaknya gedung tua yang hancur dengan dinding dan atap yang mulai runtuh.

Menurut Pak Sumari, Kota Tua memiliki potensi untuk dikembalikan menjadi kawasan yang cantik dan bersih misalnya dengan membersihkan kanal Kali Baru yang aliran airnya sudah lama mati karena timbunan sampah. Tidak hanya bau yang tidak sedap, namun tentu saja mengganggu pemandangan. Ada yang pernah mengatakan padanya kalau saja kanal tersebut dibersihkan bisa jadi akan mirip seperti di Eropa sana.

Keluarga Pak Sumari tinggal di Jepara, Jawa Tengah. Setiap enam minggu sekali diusahakannya untuk bisa mengunjungi mereka sambil terus mengirim mereka uang setiap bulan. Untungnya anak perempuannya tinggal di pinggiran Jakarta bersama suaminya, sehingga Pak Sumari masih merasa cukup dekat dengan keluarganya.

Pak Sumari yang selalu sumringah dan senang bercanda ini sudah mengawali karirnya sebagai pemandu wisata sepeda sejak 1980. Di akhir pekan adalah waktunya yang paling sibuk, karenanya di hari Senin dia suka meliburkan dirinya. Saat libur ini akan dihabiskannya dengan mencuci baju dan membaca buku.

Salah satu keterampilan yang ingin sekali dimiliki oleh Pak Sumari saat ini adalah belajar bahasa Inggris. Dia merasa frustasi setiap kali tidak bisa menceritakan tentang sejarah Kota Tua yang dicintainya kepada turis-turis asing yang ditemuinya disana. Pak Sumari juga berharap orang Jakarta bisa kembali bangga akan kota mereka dan menjaga kebersihannya serta menghargai sejarah kota yang mereka tinggali ini.