facebook twitter google
english indonesian

Berkeliling Bersama Sang Pemenang

Jembatan Inggris(1)Dokumentasi oleh Andhika Aditya & Nin Djani
Dengan Pak Sumari lagi hari ini. Tapi kali ini Nindy, sang pemenang kuis, akan bercerita tentang pengalamannya berkeliling Kota Tua bersama saya.

Perhentian pertama, Toko Merah
Dari dulu gue selalu penasaran sama gedung di sebelah Kali Besar ini. Tapi karena gedung ini gak dibuka sebagai apa-apa, ya gak pernah masuk. Rupanya kata Pak Sumari, memang gedung ini tidak dibuka untuk umum – hanya disewakan saja. Menurut gue pribadi sih sayang juga ya kalau ditutup, soalnya dari hasil ngintip-ngintip tampaknya interior Toko Merah masih banyak yang asli dan bagus sekali. Seandainya dipugar menjadi galeri atau museum pasti cantik. Saat ini kalau dari pengamatan gue, façade Toko Merah lebih berfungsi sebagai latar belakang selfie bersama mobil-mobil kuno yang diparkir di halamannya. Oh, fakta yang cukup menarik: ternyata Toko Merah ini gak selalu merah! Warna merah baru diberikan setelah gedung ini dibeli oleh Kapiten Cina Oey Liauw Kong untuk dijadikan rumah dan toko. Sebelumnya? Ya warna putih seperti gedung-gedung Belanda. Lalu kami lanjut ke Jembatan Inggris alias Jembatan Kota Intan alias Engelse Brug! Jembatan yang dibangun tahun 1628 ini konon jembatan Belanda yang tertua di Jakarta. Kenapa namanya Jembatan Inggris? Soalnya dulu menghubungkan Benteng Belanda dan Benteng Inggris.

Dari sana, kami lalu melintas ke Museum Bahari. Museum ini terbagi dari dua area: pertama ada Menara Syahbandar, area kedua terletak di seberangnya berupa deretan bangunan yang dulu berfungsi sebagai gudang rempah-rempah dan kini menjadi lokasi utama Museum Bahari. Menara Syahbandar dulunya berfungsi sebagai menara pemantau dan kantor pabean di zaman Belanda. Jarak pandang dari titik ini sebenarnya memang cukup jauh, sayang mungkin udara Jakarta memang penuh polusi sehingga tidak terlalu banyak juga gedung-gedung yang terlihat (tapi kalau sampah di kali dan jalanannya sih kelihatan banget dari atas Menara Syahbandar!) Di sini Pak Sumari bercerita tentang kejayaan VOC – gue dan Dhika terkesan dengan pengetahuannya, terlebih mengingat Beliau bukan asli Jakarta, tapi terlihat sekali kalau Pak Sumari menguasai seluk beluk Kota Tua.

Kalau buat gue pribadi, yang lebih mengesankan lagi, sepanjang perjalanan ini (gak cuma pas di Menara Syahbandar), Pak Sumari rajin menyapa orang-orang di tempat-tempat yang kami singgahi. Akrab banget. “Di Kota sih semua orang teman-teman saya, Dik,” katanya. Gue terkesan, ternyata masih banyak juga ya orang-orang seperti Pak Sumari di Jakarta yang kian hari kian metropolitan. Barangkali kita semua bisa mencoba untuk benar-benar berteman dengan orang-orang yang memang ada di sekitar kita. Dari Menara, kami menyeberang ke gedung Museum Bahari. Sebenarnya tujuan ini yang paling gue tunggu-tunggu karena seumur-umur jalan ke Kota belum pernah ke sini dan katanya bagus. Ternyata memang bagus! Gedungnya.

Sebagai deretan gudang kuno, Museum Bahari sebenarnya bisa banget digarap sebagai satuan museum, kafe, galeri, bahkan panggung seni. Tapi sayang sekali isi museum ini kurang dikurasi dengan baik dan kurang menonjolkan sejarah maritim Indonesia. Di lantai bawah ada deretan kapal-kapal yang gue juga gak tau dari periode apa, lalu tiba-tiba di lantai atas ada rangkaian patung legenda laut – termasuk di dalamnya Putri Duyung dan…. percaya gak percaya, Davy Jones dari Pirates of the Carribean! Gue juga gak tau kenapa itu ada di sana. Pak Sumari juga ikutan bingung.
Duh, gue rasanya gatel pengen nata ulang museumnya – ada yang kenal siapa kuratornya? Atau jangan-jangan pertanyaannya: adakah kuratornya? Hmmm. Sebelum perjalanan berakhir, Pak Sumari mengantar kami ke Sunda Kelapa. Meski objek utama di sana adalah deretan kapal-kapal, menurut gue yang justru menarik adalah pemandangan para nelayan dan awak kapal yang lagi leyeh-leyeh tampak kontras dengan pemandangan para ‘model’ yang lagi sibuk foto-foto #ootd #kekinian #streetsyle #jakarta di sana. Memang rasa-rasanya cuma di Jakarta bisa menemukan rupa-rupa kontradiksi yang lebur di satu tempat kayak gini.Begitulah penggalan kisah dari utara Jakarta. Gue sengaja gak memberikan banyak foto-foto di sini biar lo semua mau datang ke sana dan merasakan sendiri, bahwa dengan segala ke-amburadul-annya, kota ini masih cantik dan asyik. Rasanya sayang kalau sampai Jakarta karam lalu tenggelam menjadi laut dalam.

 


A great day out

Pak SumariPhotographs by Andhika Aditya & Nin Djani
Nindy the winner of our quizz will tell you all about her prize.

“First stop, Toko Merah! I had always been curious with this building by Kali Besar, but never could get in. Apparently, Toko Merah was indeed, always closed for public – but available for rent. If it were up to me, I’d turn it into a gallery or a museum, a beautifull interior. Toko Merah could be so much more than a nice selfie spot. Oh, interesting trivia: Toko Merah (merah is Indonesian for red) was not always red! The exterior was altered into red when a Capitan China Oey Liauw Kong bought the building to be turned into a shophouse.
Photograph by Andhika Aditya & Nin Djani
Then we proceed to Jembatan Inggris a.k.a Jembatan Kota Intan a.k.a Engelse Brug! The oldest Dutch bridge (1628) in Jakarta, connect the Dutch and the British forts.
From there, we cycled (okay more like Pak Sumari and Dhika who was cycling, I was only tagging along) to Museum Bahari. The watchtower Menara Syahbandar and the main mseum building a former warehouse for spices. We are so impressed with Pak Sumari’s knowledge of the Old Town and its history, and he’s not even originally from Jakarta.

Jembatan Inggris(1)During the trip, Pak Sumari warmly greeted people he met along the way – and they greeted him back! “In Kota, everyone is my friend. I know everybody,” said the man. It was a small gesture perhaps – greeting each other – but in today’s Jakarta I think it was not that common anymore. I was genuinely in awe. Perhaps we could all learn to really befriend people around us.

Last stop,Sunda Kelapa. I was fascinated at the sight of the fishermen and ship crew just lazing around on a Saturday, that were in contrast to the sight of the ‘models’ posing for their #ootd #streetsyle #jakarta instagram photos in the same premise. I suppose this are amongst the things one can only find in Jakarta.

Dhika and I took pictures so that y’all can explore and experience the city yourselves. Hopefully you, too, can see that this city is chic in its own way, amidst the chaos. Don’t let it drown.

 


Seru Sore Hari Bersama Pak Sumari

Jembatan Inggris(1)Gue Nin, tapi kadang dipanggil Nindy dan tak jarang disebut Ninja. Bukan seorang ninja, melainkan seorang kopi-writer (yang bila dijabarkan kurang lebih kehidupannya diisi dengan menjadi penulis paruh waktu dan penikmat kopi purnawaktu).
Toko Merah(1)Akhir tahun lalu gue memenangkan kuis dari Utarakan Jakarta yang berhadiah piring cantik jalan-jalan di Kota Tua bersama Pak Sumari! Berhubung gue suka banget jalan kaki, sejarah, dan lumayan sering mengikuti ceritanya Pak Sumari di Utarakan Jakarta, gue langsung semangat banget buat langsung ketemu Sang Pemandu.

Menjelang hari H, gue semakin rajin mengecek ramalan cuaca karena hujan deras yang mengguyur Jakarta sepanjang minggu jujur lumayan bikin ketar-ketir juga. Meskipun gue suka hujan, tapi kalau hujannya deras dan berangin kan yang ada bukannya seru jalan kaki, malah basah kuyup lanjut masuk angin. Belum lagi kalau banjir.

Tapi syukurlah rupanya di hari itu langit cerah dan matahari bersinar. Barangkali ini yang namanya mukjizat “kalau jodoh gak ke mana.”

Biar jalan jalan sore itu semakin meriah gue mengajak sahabat gue, Dhika untuk bergabung. Kebetulannya orangnya bisa (kuat DAN MAU!) diajak jalan kaki, senang sejarah dan fotografi. Pas untuk digiring dalam petualangan mengarungi Kota bersama Pak Sumari!

Kami bertemu Pak Sumari di depan Museum Fatahillah – yang ternyata kalau hari Sabtu ramai sekali dengan pasar dan atraksi silat! Rasa-rasanya segala rupa kehidupan Jakarta tumpah di sana dan gue langsung membayangkan apa rasanya jadi pelataran taman ini? Dari zaman masih disebut Stadhuisplein sampai sekarang sudah jadi Taman Fatahillah, pasti dia sudah menyaksikan banyak kejadian bersejarah (yang mungkin tak tercatat) di perjalanan kota ini.

Lutut mendadak lemas ketika Pak Sumari menyodorkan sepeda onthelnya,… soalnya gue gak bisa naik sepeda! Untunglah Pak Sumari dengan berbaik hati menawarkan diri untuk membonceng gue. Dan untungnya lagi Dhika bisa naik sepeda jadi kita gak perlu mencari bala bantuan! Hahaha!

Dokumentasi oleh Andhika Aditya & Nin Djani


Banyak sekali botolnya! Poll #2


Curah hujan normal Jakarta selama 1931 sampai 1990 itu sebesar 307 mm. Memangnya, seberapa banyak sih 307 mm itu? Ini kurang lebih sama dengan kita menuang isi 300 botol air mineral ukuran besar ke lahan satu meter persegi selama satu jam. 300 botol! Lumayan kan?
Tapi itu ternyata belum apa-apa, waktu banjir besar terjadi pada bulan Februari 2015 lalu, selama 10 hari saja, yaitu 1-10 Februari, stasiun kemayoran BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) pusat mencatat curah hujan yang lebih tinggi dibading curah hujan normal satu bulan. Berapa curah hujan yang tercatat selama 10 hari tersebut?

a. Sedikit di atas 358 mm
b. Sedikit di atas 488 mm
c. Sedikit di atas 588 mm
d. Sedikit di atas 658 mm

poll24302

JAWABAN:

Apakah kalian mencoba menebak curah hujan selama 10 hari pertama bulan Februari lalu, saat banjir besar terjadi? Jawabannya adalah C

Berarti, curah hujan yang tercatat tanggal 1-10 Februari lalu ibarat menuang isi 588 botol air mineral ukuran besar ke lahan satu meter persegi selama satu jam. Jadi, bayangkan saja. 1 mm dalam curah hujan itu kurang lebih sama dengan 1 liter air per jam, per meter persegi. Pegal juga kan, kalau disuruh menuang botol air mineral sebanyak itu? Menurut kami, lebih baik pakai ember, karena satu ember isinya kurang lebih 10 liter.


Nikmati satu hari yang tak kan terlupakan


Pak Sumari akan mengajak kamu dan seorang teman dalam sebuah perjalanan bersepeda yang tak akan pernah kamu bayangkan sebelumnya. Berangkat dari Taman Fatahillah, duduk nyaman di jok sepeda hitamnya yang tampan, dia akan membawa kalian ke berbagai daerah di Kota Tua yang belum pernah kalian kunjungi sebelumnya!

Jangan lupa, Pak Sumari adalah tukang cerita ulung jadi siap-siap saja mendengar celotehnya seharian. Setelahnya, Pak Sumari akan mengantar kalian ke cafe Djakarte, ingat ceritanya yang ‘Bersepeda membuat lapar?’ dimana kalian akan menikmati makanan dan minuman yang enak disini.
Pengalaman berjalan-jalan yang tak mudah dilupakan bersama dengan Pak Sumari dan berbagai kisahnya tentang Kota Tua yang tak ada duanya. Ingin tahu caranya?
Cukup dengan menjawab pertanyaan ini,

Apa nama daerah favorit Pak Sumari di Kota Tua?
a. Petogogan
b. Pelabuhan Sunda Kelapa
c. Pekojan
d. Tambora

Anda bisa menemukan jawabannya di www.utarakanjakarta.com. Langsung sebutkan jawaban Anda disini sebelum 10 Desember 2015. Kami akan mengumumkan pemenangnya pada tanggal 11 Desember 2015 di akun Facebook dan Twitter kami, @utarakanjakarta.
Tentu saja follow kami di Facebook dan Twitter untuk tahu lebih banyak tidak hanya tentang fakta Jakarta tenggelam namun juga bertemu dengan orang Jakarta lainnya untuk bisa menemukan solusinya bersama-sama.


Terkejutkah Anda?

Poll-Post#1-Answer-Photo

Ingat angket yang kami buat minggu lalu tentang penurunan tanah Jakarta?
Kami berharap sekarang Anda makin mengerti beberapa fakta dan angka tentang tenggelamnya Jakarta. Hal ini terjadi karena besarnya jumlah penduduk dan penyedotan air tanah untuk mencukupi kebutuhan air kita sehari-hari. Ingat video drone dari tanggul laut di Jakarta Utara?
Jawabannya ada di sana.

Setiap tahun berapa tingkat menurunnya permukaan tanah Jakarta sekarang?
Pilih salah satu jawaban di bawah ini:
a. 2,5 – 7,5 cm
b. 7,5 – 25 cm
c. 25 – 75 cm

Jawaban yang benar adalah B dan kami senang apabila banyak dari Anda sudah menjawab dengan benar. Mengejutkan sekali kan? Bayangkan apabila prediksi Pak Firdaus Ali dimana garis pantai ada di Semanggi akan sungguhan terjadi!
Karenanya mari beraksi mulai hari ini.


Angket Utarakan Jakarta#1


Hari ini kita ingin mengetahui apa yang Anda tahu tentang fakta bahwa Jakarta tenggelam. Jumlah populasi dan penyedotan air tanah adalah dua penyebab utama terjadinya hal ini. Sekarang, mari saksikan video yang memperlihatkan bawah bahkan benteng laut di Jakarta Utara yang dibangun 40 tahun lalu juga sudah ikut tenggelam.

Setiap tahun berapa tingkat menurunnya permukaan tanah Jakarta sekarang?
Pilih salah satu jawaban di bawah ini:
a. 2,5 – 7,5 cm
b. 7,5 – 25 cm
c. 25 – 75 cm

Kita akan informasikan jawabannya minggu depan. Fakta ini jugalah yang menjadi alasan pembuatan proyek Utarakan Jakarta ini.  Ayo gabung!