facebook twitter google
english indonesian

Kota Jakarta

Fakta

Fakta: terkait permasalahan Jakarta tenggelam

     Penurunan 7,5 cm  – 25 cm per tahun
     Jumlah sungai 13
     Ukuran wilayah 4,384 KM2
     Wilayah di bawah permukaan laut 40%
     Populasi 28 juta

Sejarah Jakarta
Sejarah tentang kota Jakarta Utara kembali sejauh abad ke-4. Mulai dari kerajaan Sunda, kesultanan Banten, the Dutch East India Company (VOC) dan okupansi Jepang. Sekarang ini Jakarta termasuk ke dalam 5 kota tercepat pertumbuhannya di dunia. https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Jakarta

Banjir yang Historis
Jakarta memiliki sejarah banjir yang panjang; banjir dipicu oleh hujan deras musiman yang terdokumentasi bahkan semenjak tahun 1699. Dan juga baru-baru ini semenjak tahun 1996 Jakarta sedang mengalami banjir pasang yang berasal dari laut.

2007 Banjir terbesar dalam 3 abad; ombak tinggi menutupi tembok laut dan air laut menerjang jalan-jalan mengakibatkan tinggi air mencapai 1,5 hingga 7 meter di beberapa wilayah. Berdampak pada lebih dari 2,6 juta orang, memaksa 340,000 orang untuk mengungsi dari rumah mereka. Lebih dari 70 orang meninggal dan serangan penyakit mewabah ke lebih dari 200,000 orang.

Tantangan

Jakarta, dengan lebih dari 20 juta penduduk, membuatnya menjadi salah satu dari lima kota terpadat di dunia, sedang dalam ambang tenggelam. Secara geografis, Jakarta terletak di delta 13 sungai dengan 40% daratannya yang berada di bawah permukaan laut, yang membuatnya mudah diserang banjir. Jika tidak ada yang dilakukan, maka diperkirakan sepertiga dari wilayah kota ini akan terendam dalam air dalam kurun waktu 20 – 3o tahun.

Penyurutan tanah & ekstraksi air tanah yang dalam
Kota ini menurun antara 7,5 cm – 25 cm per tahun. Perkembangan ekonomi yang sedang berjalan dan meningkatnya populasi menyebabkan ekstrasi air tanah yang dalam (200 m) secara besar-besaran dan tidak teregulasi. Sekitar 75% penduduk Jakarta bergantung pada air tanah, karena air pipa lebih mahal, tidak tersedia ataupun terlalu kotor. Tingkat permukaan air menurun tajam tanpa sebanding dengan terisinya air kembali, menyebabkan tanah menjadi padat, dan kota ini menjadi semakin turun di bawah permukaan laut.

Wilayah pelestarian pantai dan ruang-ruang hijau
Dengan populasi yang meningkat, ruang hijau – sistem drainase alami – menghilang di sepanjang garis pantai dan tepi sungai.

Limbah & polusi
Bagian besar dari limbah rumah tangga harian di Jakarta dibuang ke dalam air; menyumbat pompa dan menghalangi serta mengotori jalur air. Curah hujan akan intensif sepanjang tahun karena perubahan iklim, dengan berkurangnya volume sungai, dan ruang hijau yang menyebabkan sungai meluas; banjir lebih meningkat.

Peningkatan permukaan laut
Ancaman terbesar datang dari laut. Jakarta bergantung pada tembok laut berusia 40 tahun yang menjaganya dari sentuhan laut Jawa. Tembok laut sepanjang 30 kilometer ini juga tenggelam dengan angka yang mengkhawatirkan. Strukturnya tergerus dibawah ombak, memberikan hanya sedikit perlindungan terhadap gelombang badai besar, atau bahkan terhadap arus ombak tidak terlalu tinggi pun. Keduanya dikarenakan laut sedang naik dan karena tembok laut itu sendiri mulai tenggelam ke dalam endapan tanah baru yang lembut. Ombak tinggi ekstrim berikutnya diperkirakan akan ada di tahun 2025, namun, sebelum waktu tersebut banjir pasang akan lebih sering terjadi.

Gambaran pengukuran terhadap banjir

Dengan sejarah banjir yang panjang, beberapa pengukuran telah dilakukan: tinggi dari tembok laut yang ada sekarang pernah ditambahkan tahun 2008, konstruksi dan benteng sedang dalam pengerjaan, rekonstruksi dan pengembangan kapasitas pompa, penyelesaian dari konstruksi Banjir Kanal Timur dan menggusur penduduk yang hidup di sepanjang sungai/danau dan perluasan sungai untuk membuat ruang hijau.

Walaupun demikian, tidak satupun dari pengukuran ini cukup untuk menghentikan Jakarta tenggelam.

Solusi yuang usulkan

Kebijakan air minum
Untuk menghentikan kota ini dari penurunan, pengukuran ketat diperlukan: regulasi membatasi jumlah ekstrasi air tanah yang dalam, hentikan pemompaan sumur ilegal, memperluas akses sistem air pipa dan pengembangan kualitas air.

Pengelolaan limbah
Untuk mengurangi pembuangan benda padat dan sampah rumah tangga ke sungai, pengelolaan limbah yang tepat dibutuhkan seperti perencanaan daur ulang dan pengumpulan sampah skala besar.

The Great Garuda
Setelah banjir tahun 2007, tim Belanda terdiri dari ahli air, insinyur dan pemerintah Belanda dan Indonesia telah bekerja membuat Master plan strategis yang juga dikenal sebagai `the Great Garuda` pada kaitannya dengan udara hingga burung mitos, simbol nasional bangsa Indonesia. Pengembangan pantai dan strategi pertahanan banjir menghasilkan peringanan banjir skala besar dan proyek reklamasi daratan. Akhirnya hal ini berujung pada konstruksi tanggul sepanjang 36 kilometer `Tembok Laut Raksasa` di teluk Jakarta. Rencana ini masih dalam revisi dan hasilnya belum pasti.

Pilihan lain
Selama beberapa tahun belakangan berbagai solusi telah disebutkan; relokasi seluruh kota ke pulau lain atau meninggalkan Jakarta Utara. Kedua ide tersebut dihentikan.