facebook twitter google
english indonesian

“Kamera saya di dalam sampah”


Siapa Frank Sedlar
Profesi Tehnik Sipil
Organisasi Peta Jakarta

“Semua orang tau bahwa Jakarta mengalami banjir yang buruk sekali setiap tahunnya. Namun banjir ini bukanlah disebabkan oleh penanganan air yang tidak terurus atau kondisi infrastruktur yang kurang baik. Namun disebabkan oleh infrastruktur yang buruk sekali penanganannya. Misalnya kanal banjir tersumbat oleh sampah. Tidak ada yang tahu berasa jumlah sampah yang menyumbat kanal tersebut. Diperkirakan beberapa kanal sudah mengalami 75% penurunan kapasitasnya. Pompa juga rusak oleh sampah dan pipa yang tersumbat. Agar infrastruktur di Jakarta berfungsi sebagaimana mereka didesain harus ada pengerukan sampah secara berkala.”

Video oleh Frank Sedlar www.frank-sedlar.comIMG_1095_1


Rencana Kota Perlu Lebih Baik!

Firdaus Ali Post#1Siapa Firdaus Ali, PhD.
Profesi Dosen & peneliti – Program Tekhnik Lingkungan, Universitas Indonesia
Keahlian Biotekhnologi Lingkungan
Organisasi Indonesia Water Institute / IWI (Institusi Air Indonesia): Pendiri & Ketua, Indonesia Water Partnership / IWP (Kerjasama Air Indonesia): Anggota Komite Pengarah Nasional, Jakarta Water Resources Council / JWRC (Dewan Sumber Daya Air Jakarta): Anggota Dewan

“Masih ingat posting terakhir saya? Saya membahas tentang betapa pentingnya pemerintah untuk mempersiapkan jalur distribusi air bersih, untuk mencegah ekstraksi air tanah dalam. Namun apakah Anda tahu bagaimana hal itu terkait dengan perencanaan kota? Dengan perencanaan kota yang lebih baik, penyurutan tanah yang berpotensi disebabkan oleh ekstraksi air dapat dicegah. Bagaimana?
Pertama-tama – dan ini mendesak – mengontrol ekstraksi air tanah dalam melalui penambahan penyediaan pipa air bersih. Khususnya dari sumber-sumber air utama seperti waduk Jatiluhur yang sudah ada dan lainnya yang akan dibangun di sekitar Jakarta (seperti waduk Karian, Ciawi dan Sukamahi). Setelah ini, membangun tanggul lepas pantai yang direncanakan oleh NCICD (National Capital Integrated Coastal Development), yang juga dikenal sebagai Tembok Laut Raksasa, sangatlah diperlukan sekarang juga. Untuk meningkatkan kapasitas hidup sekaligus memerhatikan lingkungan, salah satu solusinya adalah dengan merelokasi penduduk melalui reklamasi dan mengatur wilayah teluk Jakarta. Hal ini perlu menjadi prioritas dikarenakan teluk Jakarta belum dimaksimalkan dan sekarang kondisinya sangatlah berpolusi.”


Banjir, Tak Ada Solusi yang Mudah

IMG_3489_1
Siapa Emma Colven
Pekerjaan Ahli Ilmu Bumi
Organisasi Kandidat Profesor, Departemen Geografi
University of California, Los Angeles

“Saya berangkat ke Jakarta untuk meneliti tentang dampak perubahan iklim terhadap banjir. Namun, seketika menjadi kian jelas bagi saya bahwa penyurutan tanah mengancam kota ini lebih cepat. Selama 2,5 bulan belakangan di Jakarta, saya telah berbicara dengan ahli dan konsultan air, mereka yang bekerja untuk pemerintah provinsi dan nasional, serta para aktivis dan orang-orang dari organisasi non-pemerintah.

Dengan musim hujan yang membasahi kita, banjir merupakan topik populer di Jakarta, dan serangkaian solusi sedang diajukan, didiskusikan dan didorong. Salah satu proyek besar di Jakarta yang dijalankan akhir-akhir ini adalah mengeruk dan “menormalisasi” sungai-sungai dan kanal-kanal untuk meningkatkan kapasitas daya tampung dan membawa air banjir lebih cepat keluar dari kota untuk mencapai teluk Jakarta. Beberapa pihak lain telah menganjurkan berbagai strategi yang bertujuan untuk mengurangi kelebihan hempasan air di permukaan, seperti penghutanan kembali di wilayah ke hulu, atau meningkatkan permukaan berpori dan ruang terbuka hijau di kota.

NCICD yang direncanakan, juga dikenal sebagai proyek Tembok Laut Raksasa, akan menggunakan pusat pemompaan, ruang penyimpanan dan tembok laut untuk mengurangi banjir. Dengan penyurutan tanah yang cepat serta diperkirakan akan terus berlanjut, beberapa ahli melihat tidak adanya alternatif. Proyek ini bermaksud untuk mengubah “ancaman” banjir menjadi sebuah “kesempatan” dengan membuat ruang baru bagi pengembangan perkotaan, yang mana perdebatan terhadapnya sangatlah dibutuhkan. Pihak lain telah menyuarakan perhatiannya mengenai dampak sosial dan lingkungannya: bagaimana proyek tersebut akan memengaruhi berbagai komunitas di Jakarta Utara, dan kehidupan para nelayan? Jika keputusannya dibuat untuk menutup teluk Jakarta, maka apa yang mungkin menjadi konsekuensi lingkungannya?

Sementara hal tersebut diperdebatkan di ranah publik mengenai strategi mana yang paling tepat untuk Jakarta, ancaman banjir yang merusak telah menjulang, dan Jakarta berada dalam tekanan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan solusi, walaupun hal ini bukanlah tugas yang mudah.”
IMG_0663


Sumbatan,Air dan Banjir

wadukpluitpanoramavuurSiapa Candrian Attahiyat
Profesi Arkeolog
Pengalaman Ahli konservasi Kota Tua

Apakah Anda masih ingat beberapa minggu lalu saat saya bercerita tentang `Revitalisasi berwawasan Pelestarian?`. Saya kembali lagi, ya saya Candrian Attahiyat – saya pernah bekerja untuk konservasi cagar budaya untuk pengelolaan Kota Tua Jakarta.
Saya seorang arkeolog yang ikut memerhatikan masalah air dan banjir. Hari ini saya ingin menganalisa sumbatan jalan air dengan Anda.
Sumbatan terjadi ketika Jakarta mengalami banjir, dimana banjir di kota ini tidak hanya berisi air, namun terdapat banyak sampah juga! Banyak orang yang menganggap air merupakan suatu elemen penyebab polusi, namun sebenarnya sampahnya lah yang menyebabkan air jadi terkena polusi. Anda tahu, saat sampah terdapat di sepanjang sungai, saat musim hujan air naik, maka tidak adanya ruang lagi untuk mengalir karena semua sampah tersebut dan kemudian Anda mengalami banjir. Air dan sampah bercampur dan mengalir di sepanjang jalan-jalan. Saya percaya bahwa kita bisa mengurangi resiko banjir jika Pemda Jakarta melakukan berbagai proyek air yang dapat mengedukasi dan menginformasikan bagaimana cara untuk membuang sampah yang benar dan berikut dengan sanksi tertentu apabila tidak mematuhi aturan. Banjir mungkin sulit untuk dihentikan, namun setidaknya kita harus mencoba untuk menguranginya, kenapa tidak?
Maka, mari kita lakukan berbagai tindakan nyata! IMG_5241


Semanggi menjadi Lautan

NGINHR010_IMG_6936Siapa Firdaus Ali, PhD.
Profesi Dosen & peneliti – Program Tekhnik Lingkungan, Universitas Indonesia
Keahlian Bioteknologi Lingkungan
Organisasi Indonesia Water Institute / IWI (Institusi Air Indonesia): Pendiri & Ketua, Indonesia Water Partnership / IWP (Kerjasama Air Indonesia): Anggota Komite Pengarah Nasional, Jakarta Water Resources Council / JWRC (Dewan Sumber Daya Air Jakarta): Anggota Dewan

Saya telah membuat banyak penelitian tentang air. Ya, air dan air di Jakarta setiap waktu. Suatu saat di tahun 2012, dengan dua teman saya dari Geodesi ITB ProProf.Dr.Ir. Hasanudin Z.Abidin & Dr.Ir.Heri Andreas kami membuat simulasi dan skenario. Daratan Jakarta yang tenggelam, dan kami sedang melihat ke masa depan. Simulasi dan skenario kami saat itu sangat mengejutkan ketika kami memprediksi apa yang mungkin terjadi di tahun 2050!
Saya beritahu skenario yang baik terlebih dahulu, pinggir pantai Jakarta di tahun 2050 memungkinkan untuk berada di daerah Harmoni. Wow, sekarang pinggiran khan ada di Jakarta Utara dan bisa jadi bergeser ke Jakarta Pusat? Namun, jangan merasa senang karena jika kita tidak bekerja keras, skenario terburuk adalah daerah Semanggi bisa menjadi pinggiran laut Jakarta di masa depan. Bahkan bisa mencapai area yang hampir Selatan itu! Sekarang ini, apa yang kami temukan adalah warga Jakarta cenderung mengkonsumsi air dengan boros, melakukan eksploitasi air tanah dalam yang esktrasinya secara besar-besaran dan sebagian besar bagian Jakarta sekarang mengalami defisit air tanah. Itulah mengapa Jakarta sedang tenggelam. Kita harus menyelamatkan Jakarta yang kita cintai; kerja dengan pintar dan cepat untuk meminimalkan penyurutan tanah. Bisa melalui kontrol total terhadap ekstraksi air tanah dalam atau dengan membangun infrastruktur yang aman di pinggiran laut yang ada sekarang. Kita semua harus BERTINDAK jika tidak mau Semanggi menjadi pinggiran laut yang baru. NGIONHR017_IMG_4385A


Banjir adalah sejarah yang berulang

IMG_6491

Siapa                Candrian Attahiyat
Pekerjaan      Arkeolog
Pengalaman Ahli konservasi Kota Tua
Tinggal di      Jakarta

Banjir adalah sejarah yang berulang

Jangan mengeluh kalau Jakarta kebanjiran. Lihat Kota Tua; banjir sudah terjadi disana sejak jaman kolonial. Tahukah Anda kalau banjir pertama kali terdokumentasi di Jakarta itu terjadi pada tahun 1699? Saat itu air sungai Ciliwung membanjiri Batavia setelah meletusnya gunung Salak. Sudah seperti sejarah yang berulang memang. Walaupun, banjir yang terjadi di Kota Tua menjadi sulit ditangani karena berada di dataran rendah.

Kota Tua sebenarnya adalah sebuah area unik yang punya banyak sekali potensi. Untuk merevitalisasinya kita mesti terus menjaga dan merestorasi bangunan-bangunan tua yang bersejarah juga melindunginya, termasuk dari ancaman banjir. Di tahun 1905, revitalisasi Kota Tua yang pertama kali dilakukan oleh DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dan hampir 90% dari area tersebut merupakan bangunan dari abad ke 20.

Saya sangat senang karena pemerintah sudah berusaha untuk membantu menjaga bangunan Kota Tua, namun seringkali dijalankan atas perintah semata-mata. Akan lebih baik jika keinginan revitalisasi Kota Tua menjadi visi semua lapisan anggota pemerintah hingga ke akar-akarnya. Beberapa kali terjadi adanya proyek peninggian jalan yang sudah seperti lapis legit, berkali-kali. Memang jalan jadi tidak banjir, namun posisi bangunan tua jadi berada di bawah permukaan jalan sehingga terkena banjir. “Peninggian sebuah lapisan jalan itu membahayakan, jika diterjemahkan sebagai bagian dari revitalisasi jangan sampai keliru. Yang benar adalah revitalisasi berdasarkan kelestarian”, ujar Candrian Attahiyat yang khawatir setiap Kota Tua terkena banjir.

IMG_6471